Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uma.ac.id/handle/123456789/1280
Title: Hubungan antara Adversity Quotient dengan Motivasi Berwirausaha Online pada Mahasiswa Psikologi Universitas Medan Area
Authors: Melani, Indri
Keywords: motivasi;adversity quotient
Issue Date: 2017
Publisher: Universitas Medan Area
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara adversity quotient dengan motivasi berwirausaha pada mahasiswa. Dimana semakin tinggi motivasi maka semakin tinggi adversity quotient (AQ) dan sebaliknya semakin rendah motivasi maka semakin rendah adversity quotient (AQ). Penelitian ini disusun berdasarkan metode skala Likert dengan menggunakan skala adversity quotient diukur dengan menggunakan skala yang dibuat peneliti berdasarkan dimensi-dimensi dari adversity quotient yang telah disusun serta dirangkum yang dikemukakan oleh (Stoltz, 2001) yaitu : control (kendali), origin & ownership (asal-usul dan pengakuan), reach (jangkauan), dan endurance (daya tahan). Skala motivasi berdasarkan aspek-aspek menurut (Anoraga,1995) yaitu: keadaan termotivasi dalam diri individu, suatu tujuan kearah mana tingkah laku diarahkan dan tingkah laku yang timbul yang diarahkan oleh keadaan. Berdasarkan analisis data, maka diperoleh hasil sebagai berikut: 1). Ada hubungan positif yang signifikan antara Adversity Quotient dengan Motivasi, dimana rxy = 0.361; p = 0.00 < 0,05. Artinya semakin tinggi motivasi maka semakin tinggi adversity quotient (AQ) dan sebaliknya semakin rendah motivasi maka semakin rendah adversity quotient . 2). Hipotesis dalam penelitian ini diterima berdasarkan hubungan antara variabel bebas X dengan variabel terikat Y adalah sebesar r2 = 0,130. Ini menunjukkan bahwa motivasi dipengaruhi oleh Adversity Quotient sebesar 13%. dan 87 % dipengaruhi faktor lain. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa pendapat para ahli antara lain : Sifat tahan banting dalam diri manusia menunjuk pada kemampuan menghadapi kondisi-kondisi kehidupan yang keras. Senada dengan itu Wetner yang dikutip dalam Stoltz (2000) mengatakan bahwa anak yang ulet adalah perencana, orang yang mampu menyelesaikan masalahnya dan orang yang mampu memanfaatkan peluang. Orang yang mengubah kegagalannya menjadi menjadi batu loncatan mampu memandang kekeliruan atau pengalaman negatifnya sebagai bagian dari hidupnya.
URI: http://hdl.handle.net/123456789/1280
Appears in Collections:SP - Psychology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
128600109_FILE1.pdfCover188.94 kBAdobe PDFView/Open
128600109_FILE2.pdfAbstract107.32 kBAdobe PDFView/Open
128600109_FILE3.pdfIntroduction124.27 kBAdobe PDFView/Open
128600109_FILE4.pdfChapter I125.14 kBAdobe PDFView/Open
128600109_FILE5.pdfChapter II268.55 kBAdobe PDFView/Open
128600109_FILE6.pdfChapter III180.36 kBAdobe PDFView/Open
128600109_FILE8.pdfReference252.4 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.